Manohara Bebas, Aku Di Tangkap Polis Malaysia
Waduh, kok bisanya kemaren itu ketemu dengan polis malaysia yang sedang razia di perairan EOPL perbatasan indonesia dengan malaysia di utaranya pulau batam, jangan-jangan ini karena pemberitaan bombastis dari kasus bebasnya manohara dari pelukan sang raja kelantan.
lihat saja setelah manohara bebas ceritanya kan jadi seribu satu macem, sampe akhirnya jadi sebuah sinetron yang katanya bakal muncul di rcti, sudahlah itu jalan hidupnya si manohara,yang saya gak habis pikir gak lama setelahnya muncul lagi kasus ambalat, penyiksaan tki, penenggelaman kapal pembawa tki ilegal dari malaysia dan akhirnya saya sendiri merasakan bagaimana rasanya di integrosai dibawah todongan senjata polis malaysia ketika kapal pancung yang membawa saya baru saja selesai mengerjakan pekerjaan bunker survey kapal-kapal eng lee shipping di kawasan epol ini,
nyaris saja kami dibawa ke markas polis malaysia ini ke daratan mereka yang tentu saja ceritanya mungkin akan menjadi tak terbanyangkan pilunya, karena polis malaysia terkenal kejam dalam menyiksa orang indonesia di tahanana mereka dan kabar burungnya ada yang di suntik segala ( lihat maonhara kabarnya jugga di suntik oleh raja kelantan) heran kenapa orang malaysia hobi nyuntik..?
untung saja polis yang menahan kami dari sore hingga malam itu masih bisa diajak negosiasi untuk pembebasan kami walaupun kami harus mengeluarkan sedikit uang lebih untuknya.
Read More..
Thursday, June 18, 2009 | 0 Comments
Gas Kentut Membawa Angin Segar Bagi Ilmuwan
Hidrogen sulfida, salah satu gas penyebab bau kentut, ternyata bermanfaat. Selain sebagai anti-pembengkakan, gas ini turut mengatur tekanan darah.
Baunya khas seperti kotoran. Ada pula yang mengatakan mirip telur busuk bahkan sampah dekat selokan di pinggir jalan. Gas kentut, atau lebih tepat yang akan dibicarakan adalah gas hidrogen sulfida, sejak dulu memang dipandang sebelah mata.
Terkadang, kemunculannya dianggap memalukan. Kebanyakan orang menilai tak sopan bila mengeluarkannya sembarangan. Bila ia terlanjur keluar, tak jarang orang berusaha menahan dan menyembunyikan.
Sedikit sekali yang memikirkan hikmah di balik ciptaan-Nya. Bahkan, di antara manusia ada yang berpaling setelah diperlihatkan tanda kekuasaan Allah.
Menghadapi yang demikian, Allah telah mengingatkan manusia agar tidak berpaling dari tanda kekuasaan-Nya, meski berbau dan dianggap hina seperti hidrogen sulfida. Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling daripadanya (QS. Yusuf 12:105)
Hidrogen Sulfida dan Kehidupan
Hidrogen sulfida merupakan gas alami yang sering dijumpai manusia. Di alam bebas, gas dengan rumus kimia H2S ini dihasilkan oleh tumpukan sampah dan gunung berapi. Tak hanya berbau busuk, gas tersebut juga berbahaya dan dapat menyebabkan keracunan jika dihirup dalam jumlah tertentu.
Bagi manusia, gas ini juga tak asing didengar telinga. Di dalam tubuh, hidrogen sulfida secara alami dihasilkan oleh bakteri penghuni usus besar manusia. Gas tersebut adalah hasil samping pembusukan makanan yang dicerna. Seperti gas lain yang dihasilkan tubuh, ketakseimbangan produksi H2S menimbulkan berbagai penyakit.
Dahulu, manusia enggan menelisik jauh makna dibalik kentut. Namun, kini agaknya orang perlu berpikir ulang atas sikap yang demikian. Sebagaimana hasil penelitian yang akan dipaparkan, gas tersebut ternyata bermanfaat bagi kesehatan.
Penelitian & Gas Kentut
Penelitian yang sudah dirintis beberapa tahun lalu, sedikit demi sedikit kini membuahkan hasil. Berdasarkan penelitian, ada beberapa kegunaan hidrogen sulfida di dalam tubuh. Di antaranya, gas tersebut berperan dalam mengatur tekanan darah dan mencegah terjadinya pembengkakan (anti-pembengkakan/ anti-inflamasi) .
Para peneliti dari Peninsula Medical School dan King& College di London telah berhasil mengetahui mekanisme peran gas hidrogen sulfida dalam pengaturan tekanan darah. Gas tersebut bekerja dengan melonggarkan jaringan pembuluh darah serta meningkatkan kelenturan pembuluh vena dan arteri. Akibatnya, peredaran darah dalam tubuh lebih lancar.
Hasil penelitian juga dapat menjelaskan keterkaitan fungsi H2S dengan gas-gas lainnya, semisal oksida nitrit (NO), dopamin, dan asetilkolin. Gas-gas tersebut sangat berperan dalam penyampaian sinyal antar sel saraf serta dapat membangkitkan atau meredam aktivitas pemikiran di otak.
Terkuaknya mekanisme peran gas kentut di dalam tubuh membawa angin segar bagi perkembangan dunia kesehatan. Penemuan ini dapat menginspirasi pembuatan dan modifikasi obat sehingga lebih tepat sasaran. Tak hanya itu, efek samping penggunaan obat juga dapat berkurang.
Sekarang kita tahu peranan hidrogen sulfida dalam pengaturan tekanan darah. Adalah mungkin untuk merancang terapi obat yang meningkatkan pembentukan [pengaturan tekanan darah] itu sebagai alternatif cara menangani tekanan darah tinggi yang ada saat ini;, kata Solomon H. Snyder, MD dari John Hopkins Medical Institutions.
Selain berperan dalam pengaturan tekanan darah, gas hidrogen sulfida juga ternyata lebih aman dan efektif sebagai obat anti-pembengkakan (anti-inflamasi) . Hal tersebut merupakan temuan terkini para peneliti dari Peninsula Medical School.
Meskipun obat-obatan anti-pembengkakan tradisional sangat ampuh dan aman, keduanya dapat merusak lapisan permukaan dalam dinding lambung pada sebagian orang sehingga menimbulkan gangguan lebih lanjut. Pelepasan H2S secara terkendali dan terus-menerus memberikan peluang bagi pengembangan kelompok baru obat-obatan anti-pembengkakan atau mendorong perbaikan obat-obatan yang ada sekarang sehingga [obat-obatan] itu juga melepaskan H2S dan harapannya menimbulkan lebih sedikit akibat samping pada lambung-usus, papar Dr. Matt Whiteman.
Ia juga menambahkan, “kami baru saja mulai mengungkap peran mengejutkan H2S dalam tubuh. Tak hanya dalam sistem jantung-pembuluh darah, tetapi juga peranannya dalam anti-pembengkakan, pelemahan saraf, dan diabetes, serta perananya dalam kesehatan” .
Dianggap Hina, Tapi Berguna
Demikianlah Allah menciptakan sesuatu dengan rancangan dan fungsi yang tepat. Tak satu pun di dunia ini yang Dia ciptakan tanpa manfaat. Bahkan, barang yang dianggap hina semisal gas kentut, ternyata membawa maslahat.
Bayangkan, jika tak ada hidrogen sulfida dalam tubuh. Boleh jadi sistem peredaran darah tidak akan sebaik sebagaimana seharusnya. Pun, proses anti-pembengkakan tidak akan terjadi sesempurna sekarang, serta berkemungkinaan membawa masalah kesehatan.
Oleh karena tidak adanya kesia-siaan dalam ciptaan Allah mana pun, termasuk seremeh gas kentut, maka sudah sepantasnya bagi manusia untuk berupaya memikirkan penciptaan oleh Allah. Hal ini senada dengan firman Allah dalam Al Qur’an yang menjelaskan ciri orang berakal: (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ''Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka; . (QS. Ali Imron 3:191)
Read More..
Monday, June 08, 2009 | 4 Comments
udah baca email Prita?
ini dia email dari mbak prita yang membawanya menginap selama 20 hari di LP wanita tangerang, Surat elektronik itu membuat Omni berang. Pihak rumah sakit beranggapan Prita telah mencemarkan nama baik rumah sakit tersebut beserta sejumlah dokter mereka. Seperti apakah surat Prita yang membawanya ke penjara?
Kisah Prita bermula saat ia dirawat di unit gawat darurat RS Omni Internasional pada 7 Agustus 2008. Selama perawatan, Prita tidak puas dengan layanan yang diberikan. Ketidakpuasan itu dituliskannya dalam sebuah surat elektronik dan menyebar secara berantai dari milis ke milis.
Berikut ini adalah surat prita.
RS OMNI DAPATKAN PASIEN DARI HASIL LAB FIKTIF
Prita Mulyasari - suaraPembaca
Jangan sampai kejadian saya ini menimpa ke nyawa manusia lainnya. Terutama anak-anak, lansia, dan bayi. Bila anda berobat berhati-hatilah dengan kemewahan rumah sakit (RS) dan title international karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat, dan suntikan.
Saya tidak mengatakan semua RS international seperti ini tapi saya mengalami kejadian ini di RS Omni International. Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB. Saya dengan kondisi panas tinggi dan pusing kepala datang ke RS OMNI Internasional dengan percaya bahwa RS tersebut berstandar International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan manajemen yang bagus.
Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39 derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah trombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000. Saya diinformasikan dan ditangani oleh dr I (umum) dan dinyatakan saya wajib rawat inap. dr I melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000.
dr I menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan. Tapi, saya meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini. Lalu referensi dr I adalah dr H. dr H memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah.
Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau izin pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan pagi, dr H visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam. Bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?). Saya kaget tapi dr H terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa izin pasien atau keluarga pasien.
Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya sangat khawatir karena di rumah saya memiliki 2 anak yang masih batita. Jadi saya lebih memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan saya percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal.
Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap suntik tidak ada keterangan apa pun dari suster perawat, dan setiap saya meminta keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Lebih terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya. Satu boks lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul.
Tangan kiri saya mulai membengkak. Saya minta dihentikan infus dan suntikan dan minta ketemu dengan dr H. Namun, dokter tidak datang sampai saya dipindahkan ke ruangan. Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali ke 39 derajat dan datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter apa. Setelah dicek dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr H saja.
Esoknya dr H datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk memberikan obat berupa suntikan lagi. Saya tanyakan ke dokter tersebut saya sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. Saya tanyakan berarti bukan kena demam berdarah. Tapi, dr H tetap menjelaskan bahwa demam berdarah tetap virus udara. Saya dipasangkan kembali infus sebelah kanan dan kembali diberikan suntikan yang sakit sekali.
Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang sesak napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun hanya berkata menunggu dr H saja.
Jadi malam itu saya masih dalam kondisi infus. Padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya. Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan suntikan dan obat-obatan.
Esoknya saya dan keluarga menuntut dr H untuk ketemu dengan kami. Namun, janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami dan kakak-kakak saya menuntut penjelasan dr H mengenai sakit saya, suntikan, hasil lab awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan sesak napas yang dalam riwayat hidup saya belum pernah terjadi. Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri.
dr H tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan. Dokter tersebut malah mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan kembali dan menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami berdebat mengenai kondisi saya dan meminta dr H bertanggung jawab mengenai ini dari hasil lab yang pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja. dr H menyalahkan bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan.
Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat. Namun, saya tetap tidak mau dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi, saya membutuhkan data medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan data medis yang fiktif.
Dalam catatan medis diberikan keterangan bahwa bab (buang air besar) saya lancar padahal itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow up-nya sama sekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit saya yang 181.000 bukan 27.000.
Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang tercetak adalah 181.000. Kepala lab saat itu adalah dr M dan setelah saya komplain dan marah-marah dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27.000 tersebut ada di Manajemen Omni. Maka saya desak untuk bertemu langsung dengan Manajemen yang memegang hasil lab tersebut.
Saya mengajukan komplain tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh Og(Customer Service Coordinator) dan saya minta tanda terima. Dalam tanda terima tersebut hanya ditulis saran bukan komplain. Saya benar-benar dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Og yang tidak ada service-nya sama sekali ke customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya meminta tanda terima pengajuan komplain tertulis.
Dalam kondisi sakit saya dan suami saya ketemu dengan manajemen. Atas nama Og (Customer Service Coordinator) dan dr G (Customer Service Manager) dan diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang terjadi dengan saya.
Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan dari lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000 bukan 181.000. Makanya saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit 181.000 saya masih bisa rawat jalan.
Tanggapan dr G yang katanya adalah penanggung jawab masalah komplain saya ini tidak profesional sama sekali. Tidak menanggapi komplain dengan baik. Dia mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr M informasikan ke saya. Saya minta duduk bareng antara lab, Manajemen, dan dr H. Namun, tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan ke atas (Manajemen) dan berjanji akan memberikan surat tersebut jam 4 sore.
Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular. Menurut analisa ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah parah karena sudah membengkak. Kalau kena orang dewasa laki-laki bisa terjadi impoten dan perempuan ke pankreas dan kista.
Saya lemas mendengarnya dan benar-benar marah dengan RS Omni yang telah membohongi saya dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah diberikan suntikan macam-macam dengan dosis tinggi sehingga mengalami sesak napas. Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan memang saya tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi sesak napas.
Suami saya datang kembali ke RS Omni menagih surat hasil lab 27.000 tersebut namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan meminta diberikan waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya. Keesokan paginya saya tunggu kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum ada orang yang datang dari Omni memberikan surat tersebut.
Saya telepon dr G sebagai penanggung jawab kompain dan diberikan keterangan bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya. Namun, sampai jam 4 sore saya tunggu dan ternyata belum ada juga yang datang ke rumah saya. Kembali saya telepon dr G dan dia mengatakan bahwa sudah dikirim dan ada tanda terima atas nama Rukiah.
Ini benar-benar kebohongan RS yang keterlaluan sekali. Di rumah saya tidak ada nama Rukiah. Saya minta disebutkan alamat jelas saya dan mencari datanya sulit sekali dan membutuhkan waktu yang lama. LOgkanya dalam tanda terima tentunya ada alamat jelas surat tertujunya ke mana kan? Makanya saya sebut Manajemen Omni pembohon besar semua. Hati-hati dengan permainan mereka yang mempermainkan nyawa orang.
Terutama dr G dan Og, tidak ada sopan santun dan etika mengenai pelayanan customer, tidak sesuai dengan standard international yang RS ini cantum.
Saya bilang ke dr G, akan datang ke Omni untuk mengambil surat tersebut dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke resepsionis saja dan pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati kami.
Pihak manajemen hanya menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan kami dan tidak disebutkan mengenai kesalahan lab awal yang menyebutkan 27.000 dan dilakukan revisi 181.000 dan diberikan suntikan yang mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari sebelum masuk ke RS Omni.
Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut? Karena saya ingin tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif saja supaya RS Omni mendapatkan pasien rawat inap.
Dan setelah beberapa kali kami ditipu dengan janji maka sebenarnya adalah hasil lab saya 27.000 adalah fiktif dan yang sebenarnya saya tidak perlu rawat inap dan tidak perlu ada suntikan dan sesak napas dan kesehatan saya tidak makin parah karena bisa langsung tertangani dengan baik.
Saya dirugikan secara kesehatan. Mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya semaksimal mungkin. Tapi, RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini.
Sdr Og menyarankan saya bertemu dengan direktur operasional RS Omni (dr B). Namun, saya dan suami saya sudah terlalu lelah mengikuti permainan kebohongan mereka dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS lain.
Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang selaput atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak jelas dan apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan waktu yang cukup untuk menyembuhkan.
Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya masing-masing. Benar. Tapi, apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang dipercaya untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh mengecewakan.
Semoga Allah memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni supaya diingatkan kembali bahwa mereka juga punya keluarga, anak, orang tua yang tentunya suatu saat juga sakit dan membutuhkan medis. Mudah-mudahan tidak terjadi seperti yang saya alami di RS Omni ini.
Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah karyawan atau dokter atau Manajemen RS Omni. Tolong sampaikan ke dr G, dr H, dr M, dan Og bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia hanya demi perusahaan Anda. Saya informasikan juga dr H praktek di RSCM juga. Saya tidak mengatakan RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari dokter ini.
Salam,
Prita Mulyasari
Alam Sutera
Read More..
Friday, June 05, 2009 | 0 Comments
Jangan abaikan gejala flu!
Kisah Sedih Penderita Komplikasi Penyakit Hyper-IgE yang Langka
Meninggal Sehari Setelah Dokter Nyatakan Sembuh
Jangan abaikan gejala flu! Apalagi, kalau gangguan kesehatan ringan itu muncul berulang-ulang. Sebaiknya konsultasikan ke dokter ahli. Jangan diobati sendiri, karena akibatnya bisa sangat fatal, dan bahkan, mematikan. Tak percaya? Inilah kisah sedih Panca yang perlu diketahui semua orang. Terutama yang suka mengobati sendiri flunya dengan antibiotik.
---
SELASA pekan lalu (26 Mei) adalah hari yang paling membahagiakan bagi Panca dan keluarga. Sebab, malam itu dr Djoko Santoso SpPD yang tiga bulan ini merawatnya dengan intensif menyatakan bahwa dia sudah sembuh.
Malam itu benar-benar hari kemenangan. Bukan hanya bagi Panca, tetapi juga bagi istrinya yang hamil tua, kedua orang tuanya yang pensiunan perawat kesehatan, tim dokter yang dipimpin dr Djoko, dan tim perawat yang menanganinya di RS Siloam Surabaya.
Perjuangan Panca, istrinya, tim dokter, dan tim perawat yang menangani Panca sejak pertengahan Februari lalu, untuk mendapatkan kesembuhan, benar-benar perjuangan panjang yang sangat berat, menegangkan, melelahkan, dan tak pernah lepas dari doa.
Dengan kata lain, tim dokter dan tim perawat RS Siloam Surabaya yang menangani Panca selama itu seperti mengemban mission impossible. Tugas yang sangat berat dan nyaris tak mungkin diselesaikan dengan baik.
Ini karena penyakit yang diderita Panca adalah penyakit yang cukup langka, yakni Hyper-IgE (baca: haiper ai ji i). Sulitnya lagi, Hyper-IgE-nya bapak dua anak (yang satu masih dalam kandungan) ini tergolong parah dan mengalami komplikasi. Lebih sulit lagi bagi tim dokter yang merawatnya. Sebab, sampai saat berita ini diturunkan, belum ada satu pun jurnal atau paper kedokteran di dunia ini yang membahas komplikasi tersebut. Karena itu, penyakit Panca ini akan melahirkan satu teori baru tentang komplikasi apa saja yang bisa ditimbulkan oleh Hyper-IgE.
Meski dengan "meraba-raba", toh akhirnya tim dokter yang terdiri atas dr Djoko Santoso SpPD KGH PhD (ahli penyakit dalam dan konsultan penyakit ginjal), Prof Dr dr Putu Gede Konthen SpPD KAI (ahli penyakit dalam, konsultan alergi dan imunologi), dan Prof Dr dr Agung Pranoto SpPD KEMD MSc (ahli penyakit dalam, konsultan endokrin, metabolik, dan diabetes), berhasil menyembuhkan Panca.
Karena itu, tak seorang pun menyangka Panca akan pergi untuk selamanya pada Rabu siang (27/5), sehari setelah dinyatakan sembuh. "Sama sekali tidak menyangka kalau Mas harus pergi secepat itu. Padahal, paginya, sebelum ke rumah sakit, dia masih main game, play station, dengan anaknya," tutur Yuli, istri Panca, yang Agustus mendatang melahirkan anak kedua.
Rabu pagi itu, tambah Yuli, dia dan suami ke RS Siloam bukan untuk kontrol Hyper-IgE-nya. "Kami ke rumah sakit untuk memeriksakan bisul di kaki Mas Panca, yang sebenarnya sudah kering. Tapi, supaya lebih jelas, ya kami kontrolkan."
Karena itu, bisa dibayangkan, di taksi yang membawa mereka ke RS, tiba-tiba Panca mengeluh napasnya sesak. Istrinya kemudian minta Panca menyandarkan kepala di bahu sang istri. Begitu menyandar, Panca terbatuk kecil dan mengeluarkan darah walaupun tidak banyak. Ini kejadian kali kesekian dalam sebulan terakhir.
Namun, kali ini Panca tak sempat mengeluh. Sesaat setelah terbatuk, tangannya yang masih menggenggam es batu terkulai, disusul kepalanya. Tentu saja sang istri panik.
Sambil menelepon dr Djoko, Yuli memeriksa napas sang suami. Sementara ibunya yang duduk di samping sopir, segera meloncat ke belakang untuk memeriksa nadi sang putra. "Detak nadinya masih ada, tapi memang tipis," kata sang ibu.
Saking paniknya, Yuli sampai harus menendang jok si sopir agar mempercepat laju taksinya.
Tak butuh waktu lama bagi taksi itu untuk sampai ke UGD RS Siloam. Di situ dr Haryono, yang pagi itu kebagian tugas jaga UGD sudah menunggu kedatangan Panca.
"Ketika datang, napasnya sudah berhenti. Saya coba lakukan resusitasi (bantuan napas, Red) sampai 30 menit. Tapi, tidak berhasil," tutur dokter umum itu. Lazimnya resusitasi hanya dilakukan antara 15 hingga 20 menit.
Selama resusitasi dilakukan, banyak sekali darah segar yang menyembur dari mulut dan hidung Panca. Ini menunjukkan bahwa sebelum meninggal, paru-paru almarhum mengalami pendarahan hebat. Hanya tak sempat termuntahkan.
Siapa pun yang mengikuti perkembangan kesehatan karyawan bagian pemasaran harian Jawa Pos itu, pasti sangat terkejut. Sebab, kondisi Panca selama lebih dari dua minggu terakhir sangat baik.
Sejak Februari lalu, belum pernah Panca mengalami kondisi sebaik itu. Selama tiga setengah bulan, kondisinya naik turun. Beberapa kali dia mengalami masa kritis yang benar-benar mendebarkan.
Seandainya dia tidak ditangani tim dokter yang hebat, tepat, dan mencurahkan seluruh perhatian mereka secara khusus selama 24 jam untuk Panca, pasti pekerja keras itu takkan bisa bertahan hingga Selasa lalu.
Bukan itu saja, andai tim dokter juga tidak didukung ketersediaan dana yang cukup, Panca pun sulit diselamatkan. Sebab, untuk menyelamatkan Panca dari masa kritisnya dibutuhkan obat-obatan yang, antara lain, biasa dipakai dalam transplantasi organ yang harganya cukup membelalakkan mata. Dan, itu tidak hanya satu dua ampul. Belum lagi biaya yang harus dibayar untuk cuci darah (hemodialisis) yang harus berkali-kali.
Penyebab sakitnya sangat sepele. Mungkin terlalu sepele. Yakni, menyepelekan gejala flu. Karena dianggap gejala flu biasa, Panca pun mengatasi sendiri gangguan kesehatan ringan yang dialami dengan obat flu biasa dan antibiotik.
Seperti yang diakui Panca dalam wawancaranya dengan Jawa Pos awal Maret lalu. "Saya sering pilek dan demam. Saya kira flu, ya saya obati dengan obat flu biasa dan antibiotik," tuturnya ketika itu.
Panca bukan satu-satunya orang di muka bumi ini yang mengatasi gejala flu dengan cara seperti itu. Padahal, flu adalah penyakit yang disebabkan oleh virus. Ini berarti obatnya bukan antibiotik, kecuali gejalanya sudah menimbulkan infeksi. Dan, yang menentukan apakah gejala flu itu sudah menimbulkan infeksi atau bukan, seharusnya dokter yang ahli. Bukan orang awam.
Cara Panca minum antibiotik pun tidak berbeda dengan kebanyakan orang. Hanya satu dua kali sehari. Kalau gejalanya sudah menghilang, artinya sudah tidak lagi demam atau pilek, ya sudah. Pemakaian antibiotik dihentikan. Padahal, bukan begitu cara minum antibiotik yang benar.
Cara pengobatan sendiri seperti itu dilakukan Panca sejak masih sangat muda. Dan, hasilnya cukup efektif. Artinya, gejala pilek dan demam itu sembuh setelah dia minum obat flu dan antibiotik.
Karena dianggap efektif, selama belasan tahun, almarhum menggunakan antibiotik yang sama. Dan, sejauh itu dia tak pernah mengalami kondisi yang tidak lazim. Misalnya gatal-gatal, sesak napas, atau gejala lain yang mirip alergi.
Read More..
Friday, June 05, 2009 | 0 Comments
Cara Kaya Orang Intenetpreneur
Cara Kaya Orang melek TI
Beberapa hari yang lalu Majalah Forbes merilis kembali 400 daftar orang terkaya di Amerika. Dan kali ini Bill Gates, pemilik Microsoft, nangkring diurutan pertama lagi sebagai orang terkaya di Amerika setelah beberapa bulan lalu posisinya tergeser oleh Warren Buffet.
Dan ini daftar 5 besar orang terkaya di Amerika versi
Forbes:
1. Bill Gates (Microsoft) - US$ 57 miliar
2. Warren Buffett (Berkshire Hathaway) - US$ 50 miliar
3. Lawrence Ellison (Oracle) - US$ 27 miliar
4. Jim Walton (Wal-Mart) - US$ 23.4 miliar
5. Rob Walton (Wal-Mart) - US$ 23.3 miliar
Di industri internet nama Mark Zuckerberg, pendiri situs Facebook, masih masuk dalam daftar 400 orang terkaya di Amerika. Walau hanya berada diposisi ke 321 tetapi cukup fenomenal karena dia termasuk miliarder termuda dan OKB (Orang Kaya Baru) he….
dengan nilai kekayaan sebesar US$ 1,5 miliar.
Anak-anak muda Google, siapa lagi kalau bukan Sergey Brin dan Larry Page bertengger pada posisi 13 dan 14 dengan kekayaan masing-masing US$ 15.9 dan US$ 15.8.
Dari daftar tersebut, dunia TI (Teknologi Informasi) cukup banyak menyumbang nama-nama orang kaya. Ini membuktikan bahwa dunia TI masih merupakan industri yang paling banyak menghasilkan uang.
Berikut daftar nama-nama orang TI yang masuk daftar orang terkaya versi majalah Forbes:
(nomor urut menunjukkan posisinya dalam daftar Forbes)
1. Bill Gates (Microsoft), USD 57 miliar
3. Larry Ellison (Oracle), USD 27 miliar
11. Michael Dell (Dell), USD 17.3 miliar
12. Paul Allen (Microsoft), USD 16 miliar
13. Sergey Brin (Google), USD 15.9 miliar
14. Larry Page (Google), USD 15.8 miliar
15. Steve Ballmer (Microsoft), USD 15 miliar
33. Jeff Bezos (Amazon), USD 8.7 miliar
47. Rupert Murdoch (News Corp.), USD 6.8 miliar
54. Pierre Omidyar (eBay), USD 6.3 miliar
59. Eric Schmidt (Google), USD 5.9 miliar
61. Steve Jobs (Apple), USD 5.7 miliar
84. Gordon Moore (Intel), USD 4.4 miliar
84. John Sall (SAS Institute), USD 4.4 miliar
91. David Sun (Kingston Technology), USD 4 miliar
91. John Tu, (Kingston Technology), USD 4 miliar
105. Richard Shulze (Best Buy), USD 3.5 miliar
144. Ray Dolby (Dolby), USD 2.9 miliar
161. Mark Cuban (Broadcast.com), USD 2.6 miliar
246. Irwin Jacobs (Qualcomm), USD 1.9 miliar
246. Omid Kordestani (Google), USD 1.9 miliar
262. Henry Samueli (Broadcom), USD 1.8 miliar
281. David Filo (Yahoo), USD 1.7 miliar
321. Amar Bose (Bose), USD 1.5 miliar
321. Todd Wagner (Broadcast.com), USD 1.5 miliar
321. Mark Zuckerberg (Facebook), USD 1.5 miliar
355. Richard Egan (EMC), USD 1.4 miliar
355. Vinod Khosla (Sun Microsystems), USD 1.4 miliar
355. Theodore Waitt (Gateway), USD 1.4 miliar
Anda ingin seperti mereka? Bermimpilah!
Sapa tahu Tuhan mendengar mimpi-mimpi Anda.
Anda bisa mulai dari sini
Read More..
Monday, June 01, 2009 | 0 Comments

















